Kolom

Lapangan Hijau Jadi Rebutan, Fanatisme Tetap Menang?

 

Ilustrasi: Mohamad Akmal Albari/Suaka

Oleh: Elsa Adila Rahma*

Mendedikasikan diri sebagai seorang penggemar atas suatu hal, tentu seolah mencatat alur baru kehidupan. Beberapa perubahan kerap kali terasa, salah satunya seperti rutinitas pagi yang mungkin biasa diawali dengan sarapan sepotong roti, mendadak berubah menjadi sepotong warta idola. Begitu pun dengan rute perjalanan harian yang makin sering dialihkan secara mandiri ke lembah sosial media.

Bicara terkait sosial media sebagai ruang jumpa utama antar sesama penggemar maupun idola. Di Indonesia, menurut pengamatan saya sejauh ini, terdapat dua komunitas penggemar terbesar yang sering kali menghiasi berbagai timeline sosial media. Yakni para penggemar idol K-pop atau yang lebih dikenal dengan istilah K-popers (K-pop Lovers) dan para pendukung sepakbola. Tentu keduanya memiliki fokus di bidang yang berbeda.

Namun belakangan ini, keduanya tampak bersinggungan. Menjelang konser idol girl group BlackPink bertajuk “Born Pink World Tour” yang diselenggarakan pada 11-12 Maret 2023 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Jakarta. Aplikasi Twitter menjadi saksi pertikaian panas antar kedua belah fanbase tersebut. Sebagian supporter sepakbola tidak terima, lantaran harus menanggung akibat berupa penundaan jadwal pertandingan tim favorit mereka.

Alhasil ragam opini pro dan kontra terus membanjiri setiap laman unggahan pemberitaan konser tersebut. Begitu pun akun Instagram resmi milik idol grup asal Korea Selatan itu tak luput terjamah ribuan protes dan dukungan. Mayoritas komentar pendukung Persib dan Persija mengaku geram menyaksikan lapangan hijau menambah fungsi. Sementara ‘Blink’ (julukan untuk penggemar Blackpink), bersikeras pada satu peribahasa: Siapa cepat dia yang dapat.

Lantas kalau begitu, siapa yang menang dan siapa yang kalah? Adu argumen atas dasar membela idola, sering kali hanya berujung pada titik buntu. Kubu pelaku maupun korban tidak akan pernah benar-benar ditemukan. Sebab rasa cinta terhadap idola yang kian tumbuh dan terawat, selalu membuka celah bagi penggemar mana pun untuk berperan selayaknya korban. Serta menyulap seluruh tindak-tanduk mereka seakan suatu kebenaran yang mutlak.

Indikasi Fanatisme Terhadap Idola

Menilik kasus perdebatan panas antara menggelar musik atau olahraga di Gelora Bung Karno. Sempat terdapat teror tertulis mengintip sinis dibalik riuh diskusi. Segelintir oknum pendukung sepakbola yang merasa kecewa, melayangkan ancaman akan melakukan kericuhan ketika konser tengah berlangsung. Hal ini membuat calon penonton semakin meradang sekaligus membawa saya pada sebuah persepsi yang berkaitan erat dengan suatu sikap berlebihan.

Ya, Fanatisme. Suatu istilah mainstream dalam ruang komunitas, kelompok atau organisasi. Melansir dari tempo.co, fanatisme adalah sebuah paham di mana orang biasanya memiliki ketertarikan secara berlebihan terhadap sesuatu. Orang yang fanatik cenderung mencelakai orang lain yang tidak seprinsip dengannya. Tentu hal ini sangat berbahaya, baik bagi diri sendiri atau bahkan untuk idola yang dipuja.

Fanatisme sendiri sangat rentan memburu para remaja, apalagi pada masa ini dikenal dengan istilah fase pencarian jati diri. Usia yang sangat tepat untuk mulai sibuk mengeksplorasi dunia, termasuk bergabung dalam suatu komunitas penggemar. Namun, emosi yang belum stabil dan berbagai macam perkembangan yang dialami. Entah itu dari segi fisik, psikis atau kognitif. Membuat beberapa remaja secara tidak sadar tergelincir ke dalam jurang fanatisme.

Berbagai ciri fanatisme terhadap idola dapat dengan mudah kita temui, terutama pada mereka yang baru saja bergabung dengan suatu komunitas penggemar. Di mana rasa kagum, suka, atau bahkan cinta tampak legit. Mereka cenderung rela membuang waktu produktif demi mengikuti aktivitas idola, bahkan mereka rela menggali beribu peluru istilah caci maki untuk bahan amunisi perang antar fanbase nanti.

Orang yang fanatik selain memiliki antusiasme yang terlalu menggebu. Mereka juga terkadang mengikuti pola hidup idola atau menukar uang secara berlebih dengan berbagai merchandise. Pada fase ini, jiwa kita seolah lebih dikuasai oleh emosi yang tidak terkendali. Mata kita seakan dibutakan dengan rasa cinta yang fana. Maka dari itu, kadang kala orang fanatik cukup sukar untuk berpikir rasional atau menerima dan memahami sudut pandang orang lain.

Jika terlalu membiarkan diri disetir obsesi terhadap idola, bahkan sampai melayangkan ancaman yang dianggap guyon belaka terus berbalas kebencian. Hal ini menjadi indikasi benih fanatisme yang tampak diwajarkan karena terlampau sering terjadi. Ditakutkan juga lambat laun orang fanatik akan tumbuh menjadi manusia penganut egosentrisme serta intoleran yang tinggi, di mana dampaknya malah akan memperkeruh dan memecah belah hubungan sosial.

Kiat-Kiat Mengagumi Idola Secukupnya

“Bila berbicara cinta itu membutakan diri, adakalanya kita berbenah untuk menyepi. Berkacalah sebagai manusia yang sejati.” Penggalan bait puisi karya Amenkcoy dalam buku Arak-Arakan Antologi Puisi Mabuk, selaras dengan fenomena fanatisme yang dapat membuat mata hati gulita dan segala permasalahan tampak abu-abu. Sebab biasanya pola pikir orang fanatik kian menyusut.

Maka dari itu, untuk memangkas akar fanatisme yang keburu tertanam dalam diri salah satunya dengan cara memperluas wawasan. Entah itu dengan memperbanyak referensi bacaan, melakukan diskusi dengan pikiran yang terbuka, atau mengkritisi kembali apa yang kita sukai. Beberapa cara tersebut membuat kita jauh lebih terbiasa dan bijak dalam menghadapi ragam perbedaan.

Jika mengagumi idola hanya dapat membuat kita kaya akan energi negatif, sebaiknya kita perlu mawas diri serta mempertanyakan kembali apa yang menjadi prioritas hidup kita. Banyak hal di luar sana menanti untuk kita eksplorasi. Semua itu tergantung pada diri kita, memilih untuk meraih kesempatan tersebut atau tetap saling melempar senapan kebencian demi mempertaruhkan lapangan hijau. Pada akhirnya hanya akan menghasilkan sebuah tanya, “untuk apa?”

*Penulis merupakan mahasiswa UIN SGD Bandung Semester empat jurusan Hukum Ekonomi Syariah, serta anggota Magang LPM Suaka

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas