Kampusiana

LPIK Gelar Bedah Buku Menjadi Bangsa Pembaca

Moderator (kiri) dan para pemateri di Rumpi Ririwa LPIK Bedah Buku Menjadi Bangsa Pembaca karya Adew Habtsa. (Dok. LPIK)

Lili Awaludin (Dosen Bahasa dan Sastra Inggris) saat membedah buku Adew Habtsa (kedua dari kiri) di Rumpi Ririwa LPIK “Bedah Buku Menjadi Bangsa Pembaca” karya Adew Habtsa. (Dok. LPIK)

 

SUAKAONLINE.COM – Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) Selasa (28/10/2014), menggelar Bedah Buku Menjadi Bangsa Pembaca karya Adew Habsta. Menurut ketua pelaksana, Reza Fajar Ghifari mengatakan, acara ini merupakan rangkaian dari program rutin tahunan pada bidang Nalar LPIK yaitu Rumpi Ririwa.

“Kebetulan karena kang Adew dekat juga dengan LPIK dan mengusulkan untuk diskusi membedah bukunya,” ungkapnya pada Suaka, seusai acara yang digelar di Gedung Student Center UIN SGD Bandung.

Hadir sebagai pemateri yakni Adew Habsta, Lili Awaludin (Dosen Bahasa dan Sastra Inggris), dan Asep Mahfudin. Sebagai pembuka acara, diisi dengan hiburan musik akustik dari Adew Habsta dan Salman Asyri Nahumaruri.

Pada pembahasan Bedah Buku, Lili Awaludin memandang ada dua kutub yang disajikan dalam literasi Adew itu, yaitu literasi pemberontakan makna verbal dan literasi pemberontakan terhadap lingkungan.

Lili Awaludin menjelaskan, literasi terhadap dunia verbal adalah deligitimasi yang mencangkup pemaknaan Adew terhadap teks atau kesalahbacaan. Adew memaparkan pengalaman membaca sebagai bagian proses perubahan dalam intelektualitas, kepekaan dan kepribadian. Kemudian, literasi yang kedua, Lili memandang Adew menghubungkan atau membaca lingkungan bersamaan dengan membaca teks.

Di lain pihak, Asep Mahfudin mengaku ketika membaca buku karya Adew, langsung teringat soal buku yang pernah dibacanya ketika SMA yaitu Andaikan Buku Sepotong Pizza karya Hernowo.

Selain itu, Asep juga menjelaskan bahwa isi dari kedua buku tersebut adalah soal paradigma, soal kacamata, yakni bagaimana instrumen lahir dan batin kita menyikapi sesuatu.

Selanjutnya, Asep memandang Adew dan bukunya adalah sebagai memor seorang penulis dalam suka dukanya demi menjadi manusia yang melek literasi. Selain itu, hal yang menabjubkan dari bukunya Adew adalah prihal keterbukaan, dan inspirasi. Bagi Adew, sebuah bangsa berbudaya tentunya tidak hanya memikirkan soal pangan, sandang dan papan, tapi lebih dari itu, menjadi pelaku literasi.

Sementara itu, Adew Habsta sendiri mengomentari karya bukunya ini merupakan sebagai rasa syukur dari adanya kesadaran membaca yang memang ia rasakan semenjak 2005 silam. “Saya merasakan maanfaat membaca dan saya ingin berbagi cerita bahwa banyak manfaat dari membaca,” ungkanya seusai acara.

Dalam Acara ini dihadiri oleh peserta dari berbagai kampus, seperti Unisba, Sekolah Tinggi Agama Islam Persis (STAIPI) dan juga dari berbagai komunitas, seperti Komunitas 81, dan Lilin Malam.

Menurut Nawwar Hilman, peserta dari STAIPI mengaku mendapatkan banyak manfaat dari acara tersebut. “Ketika semangat membaca sedang fluktuatif dan setelah acara ini semangat membaca kembali timbul,” katanya.

Nawwar juga menjelaskan kesimpulan yang dia dapat dari materi yang dibahas yaitu pentingnya membaca, dan memanfaatkan usia dengan sebaiknya untuk membaca.

Reporter : Fitri Andani

Redaktur : Adi Permana

7 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas