Infografik

Menyoal Permasalahan Perpustakaan Indonesia

SUAKAONLINE.COM, Infografis – Hari Kunjung Perpustakaan mulai diperingati melalui Ketetapan Presiden Soeharto kepada Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan surat nomor 020/A1/VIII/1995 pada 11 Agustus 1995. Sejak itu, Hari Kunjung Perpustakaan diperingati setiap tanggal 14 September dan bulan September diresmikan sebagai Bulan Gemar Membaca.

Penetapan Hari Kunjung Perpustakaan ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Pada 2016, The United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sempat menempatkan Indonesia di posisi terendah kedua dalam hal minat baca masyarakat. Meskipun data tersebut berasal dari enam tahun lalu, rupanya label rendahnya minat baca masih terus dikutip, dibahas, dan menempel kuat untuk masyarakat Indonesia hingga saat ini.

Lalu bagaimana dengan sekarang? Sayangnya, belum ada pembaharuan data dari lembaga yang sama. Namun, berdasarkan data kajian dari Perpustakaan Nasional, nilai tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia meningkat selama enam tahun ke belakang. Dari skala 1 sampai 100, Indonesia berhasil merangkak naik menjadi kategori sedang dari yang asalnya berada di kategori rendah dengan nilai 26 menjadi nilai 54,17.

Perpustakaan sebagai sumber ilmu dan sarana budaya literasi tentu mengambil andil besar dalam meningkatkan minat baca masyarakat. Berdasarkan data dari Statistika Indonesia 2021, capaian Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat Indonesia (IPLM) berada pada nilai 13,54. IPLM ini menunjukan kondisi perpustakaan secara keseluruhan yang didasarkan pada; sebaran perpustakaan, koleksi buku, tingkat kunjungan masyarakat, dan tenaga perpustakaan.

Sebaran perpustakaan di Indonesia sendiri terlihat sangat mencolok ketidakmerataannya. Terhitung tahun 2021, Jawa Timur memiliki fasilitas perpustakaan 127 kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan Maluku. Padahal luas wilayah Jawa Timur bisa dibilang hanya tiga perempatnya dari Maluku. Meski begitu Provinsi Maluku merupakan provinsi dengan capaian Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat paling tinggi.

Di samping permasalahan kurangnya pemerataan perpustakaan di daerah, beberapa perpustakaan yang sudah ada pun dihadapkan dengan sepinya pengunjung. Banyak faktor yang menyebabkan perpustakaan kurang eksis lagi di masyarakat. Di antaranya kehadiran buku dan perpustakaan digital, kesan kaku dan kuno yang menempel pada perpustakaan, kurangnya koleksi buku dan fasilitas pelengkap seperti wi-fi, dan tenaga pustakawan.

Sumber: Statistika Indonesia 2021, deepublishstore.com, tirto.id

Peneliti: Santika Lestari/Suaka

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas