3 mnt membaca"> Sejarah dan Tradisi Nyepi di Indonesia - Suaka Online
Infografik

Sejarah dan Tradisi Nyepi di Indonesia3 mnt membaca

SUAKAONLINE.COM, Infografis – Hari Raya Nyepi merupakan salah satu hari suci bagi umat Hindu penanda pergantian tahun Saka yang jatuh pada penanggal apisan sasih kedasa (tanggal 1 bulan ke-10 tahun baru Saka). Tepatnya setelah tileming sasih kesanga yaitu hari akhir dari sasih kesanga (bulan ke-9 kalender Saka). Sejarah mencatat perkembangan lahirnya tahun Saka dimulai dari India, yang pada saat itu pertikaian antar suku bangsa di India cukup sering terjadi.

Suku-suku bangsa tersebut terdiri dari Saka, Pahiava, Yueh Chi, Yavana dan Malaya yang saling bertikai memperebutkan kekuasaan di India. Singkat cerita, suku Saka dibawah pimpinan Raja Kaniskha I menang dan akhirnya mempersatukan seluruh suku bangsa di India. Untuk mengenang kejayaannya dan sebagai tonggak sejarah yang mampu menutup permusuhan antar suku, maka Raja Kanisha I pada tahun 78 Masehi menetapkan sistem kalender Saka sebagai kalender kerajaan.

Perayaan tahun baru Saka warisan Raja Kanisha I akhirnya dapat dimaknai sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional. Tahun 456 Masehi, seorang pendeta bernama Aji Saka datang dan berhasil memperkenalkan peringatan pergantian tahun baru Saka di Indonesia, yang dikenal sekarang sebagai Hari Raya Nyepi.

Nyepi berasal dari kata sepi yang berarti sunyi atau senyap, maka dari itu Nyepi dikenal sebagai hari keheningan dan mendoakan, juga menyerukan terwujudnya kedamaian. Dilansir dari situs babadbali.com, dalam kesenyapan tersebut, umat Hindu mengadakan mawas diri, menyatukan pikiran, serta menyatukan cipta, rasa, dan karsa menuju penemuan hakikat keberadaan diri kita dan inti sari kehidupan semesta.

Melansir dari situs phdi.or.id, Pelaksanaan perayaan Hari Raya Nyepi mengandung tujuan untuk penyucian, baik penyucian buana agung (alam manusia/macrocosmos) maupun buana alit (alam semesta/microcosmos). Maka dari itu dilaksanakanlah berbagai ritual sebagai rangkaian penyucian diri dalam proses upacara Hari Raya Nyepi.

Rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi diawali dengan ritual melasti yaitu sembahyang di laut yang bertujuan untuk membersihkan segala kotoran badan dan pikiran, dan dilakukan tiga hari sebelum puncak upacara Nyepi. Lalu sehari sebelum puncak Nyepi, diadakanlah ritual tawur agung yang bertujuan untuk menyucikan alam semesta beserta isinya dan meningkatkan hubungan sesama manusia, diikuti dengan upacara pengerepukan, yaitu menyebar nasi tawur, menaruh obor di sekeliling rumah dan pawai ogoh – ogoh disertai berbagai suara keras.

Berbanding terbalik dengan perayaan sebelum nyepi yang meriah dengan berbagai ritual, puncak perayaan Nyepi sendiri terkesan anti klimaks karena empat pantangan yang harus dilaksanakan dalam perayaannya. Dilaksanakan selama 24 jam dari matahari terbit pukul 06.00 pagi hingga pukul 06.00 pagi keesokan harinya. Pada waktu tersebut umat Hindu harus melaksanakan catur brata penyepian yang berguna untuk penyucian jiwa yaitu amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak berpergian), dan amati lelanguan (tidak bersenang – senang).

Setelah ritual Nyepi selama 24 jam telah selesai dilaksanakan umat Hindu dapat beraktivitas kembali. Perayaan Nyepi diakhiri dengan ritual ngembak geni dimana umat Hindu melakukan kunjungan ke rumah kerabat, saudara, atau tetangga untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan satu sama lain.

Sumber : phdi.or.id, babadbali.com, astacala.org, kumparan, kompas

Peneliti : Refkyan Mauldan/Suaka

Desain : Nur Alfiyah/Suaka

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas