Cerpen

Mencerdaskan Kehidupan Bangsat

Ilustrasi: Yazid Rizki Agung/Suaka

Oleh: Nur Muhamad Iskandar*

6 Februari 2024, Eno mangkir dari kuliah.

“Satu suapan datang, buka mulutnya. Pesawat akan segera tiba!” Eno mengangkat sesendok nasi goreng.

Sementara itu ada pasangan suami-istri yang sudah tiba di tempat tujuan. Mereka sekilas beranjak dari mobil Honda Brio keluaran 2017 itu, dan meninggalkannya terparkir kesepian di depan kosan. Mereka mulai melenggang di depan kamar-kamar kosan. sang suami memperhatikan kamar di sekitar, ternyata pemandangan tiga tahun yang lalu masih saja belum berubah.

Ada satu kamar kos yang dihuni seorang mahasiswa, di sana terlihat berjajar botol-botol bekas miras. Sementara untuk menghindari pemandangan itu, sang istri lebih memilih memusatkan perhatiannya ke tangga menuju lantai dua —tempat kamar kos anaknya.

Pintu kosan terbuka.

“Hahh Ada ayah sama ibu!” Eno terhentak kaget, suapan-suapan yang ia daratkan ke bibir tipis Auliyah seketika terhenti.

Rasa girang Auliyah terhenti juga. Ekspresi kecewa tak henti-hentinya terlukis di raut wajah Ibu Eno. Tentu saja, sorot mata tajam berwarna merah menjadi sesi awal kemarahan Ayah Eno. Eno tahu apa yang membuat orang tuanya marah dan kecewa, semestinya disitu tidak ada seorangpun mahasiswi. Pada akhirnya, cumbu-rayu yang ada berubah menjadi sial di hari itu.

3 tahun yang lalu: Hari itu fajar terik menyorot sebuah gedung. Gedung ini menjulang tinggi, letaknya dekat sekali dengan gerbang universitas. Jika kita daftar jadi mahasiswa di universitas ini dan diterima, lalu berlari-lari kecil, atau berlari-lari besar, atau dengan cara apa saja asal tidak lebih dari 25 meter, maka kita akan sampai di sana.

Sebagai MABA (Mahasiswa Baru) kita biasanya tak pernah ingin bertanya tentang aktivitas sibuk macam apa yang ada di dalamnya. Beda halnya dengan Fadlan, mahasiswa baru dari Fakultas Adab dan Humaniora ini agak unik. Di masa-masa orientasi, Fadlan mempunyai tekad bulat untuk mengetahui seluk-beluk universitas, salah satu tekad terbesarnya, yakni mengetahui apa saja kegiatan-kegiatan yang sering dilakukan di tiap-tiap gedung.

Maka semenjak hari itulah Fadlan akrab dengan dosen-dosen, satpam, office boy,dan Taufik.

 

3 Februari 2024: “Taufik sediakan kopi sana!” ia menghitung terlebih dahulu rekan-rekannya yang menyukai kopi, “empat, lima, enam, tujuh, untuk tujuh orang, fik!”

“Kalau yang lain gimana, pak?” bisik pelan Taufik, ia adalah satu-satunya office boy yang seringkali harus nongol ke ruang rapat, kalau nggak nongol pasti kena potong gaji soalnya.

“Bu Maryati dan Pak Aksan mau ikut ngopi juga? Atau teh? Atau susu? Atau Jus? Tenang di sini bapak-ibu bisa pesan apa saja, asal jangan bilang-bilang ke mahasiswa,”

“Loh kok jangan bilang-bilang mahasiswa?” Bu Maryati dengan sengaja mengherankan diri.

“Soalnya kalau pesan-pesan kita itu harus didengar dan dipenuhi, tapi kalau pesan-pesan dari mahasiswa cukup menguap bersama gelombang toa saja. Kita boleh meminta segala yang kita mau, tapi kalau jadi mahasiswa harus mau melakukan segala,” ia tertawa terhihi-hihi —dan sedikit terlonjak dari kursi berlogo universitas itu.

Bu Maryati bingung dengan keadaan ini. Apakah ia harus tertawa atau tidak. Apakah ia harus tertawa dengan terpaksa. Apakah ia harus terpaksa diam dan diinjak kakinya oleh rekan-rekan di sebelahnya supaya tertawa. Sama saja.

6 Februari 2024: Sama saja seperti pertemuan-pertemuan yang lalu, Eno selalu saja memecah jalannya diskusi. Eno seorang periang, suka membahas cewek, suka membahas kemarahan apa saja yang didapatkan dari orang tuanya. Oleh karena ini, forum diskusi non formal yang dihadiri perwakilan seluruh organisasi-organisasi intra harus beralih topik ke dua topik yang sering dibahas Eno itu. Selama dua jam.

Siapa yang berani menghentikan omongan Eno? Tapi, ada satu momen yang sering ditunggu-tunggu ketika Eno menelurkan pemikirannya, yaitu momen saat Eno lapar dan haus. Sekilas itulah Eno akan beringsut pergi dan hadirin bebas lagi berdiskusi.

“Lanjut, rekan-rekan!” tutur Fadlan.

“Tersisa beberapa hari lagi, kita harus bergerak cepat, pimpinan,” ujar Andra.

“Butuh koordinasi tiap himpunan juga,” ucap Sandra, mahasiswi yang menjabat sebagai sekretaris pendamping Andra.

“Hari ini juga siapkan surat undangan untuk tiap-tiap himpunan, setiap himpunan setidaknya mengirimkan dua puluh orang, itu batas minimal. Lebih banyak lebih bagus,” jawab Fadlan.

“Kita perlu mengirimkan surat izin ke pihak universitas tidak?” tanya salah seorang mahasiswa.

Seketika Eno datang lagi.

“Muka bumi universitas ini bukan hanya milik mereka, tapi fasilitas untuk kita juga, termasuk fasilitas untuk mahasiswa berorasi. Pake izin-izin segala!” tegas Eno.

 

9 Februari 2024: Eno dan Andra tidak diketahui keberadaannya. Tidak ada pesan masuk sama sekali. Tidak ada kabar. Kegiatan terakhir yang mereka berdua ikuti adalah seminar jurusan. Pada sore harinya saat Fadlan hendak menemui Eno di kosan, ibu kos berkata, bahwa ada dua orang laki-laki tua menjemput Eno dengan menggunakan motor.

“Ada atau tanpa Eno, aksi demo harus bisa terlaksana. Saya tau kasus penculikan ini telah menyerang sisi psikologis kalian, tentu kalian tidak ingin hal ini terjadi pada kalian,” sejenak Fadlan memandang dengan lembut beberapa orang yang hadir di rapat koordinasi, berharap tatapannya bisa sedikit menenangkan, “Tidak bisa tidak, kita sudah kalah start, mari kita mulai bergerak. Lakukan dengan hati-hati dan teliti arahan yang telah saya sampaikan!”

“Laporan! Empat himpunan dari tiga fakultas yang berbeda menyatakan tidak akan ikut serta, pada aksi demo besok. Mungkin, akan ada himpunan lain yang menyusul tidak jadi ikut juga, itu harus kita cegah, pimpinan!” tegas salah satu mahasiswa.

10 Februari 2024: Mahasiswa bertingkah dinamis sekali hari itu. Pertama, ada mahasiswa yang sedang anteng kuliah di kelas. Kedua, ada yang sedang kabur dari kelas dengan cara izin ke toilet. Ketiga, ada yang santai-santai di kantin dan tak sudi masuk kelas. Keempat, ada yang masih dalam buaian kasur kosan dan jikalau terbangun nanti ia pasti kaget karena seharusnya hari itu ia presentasi. Kelima, ada mahasiswa yang jemput pacar tapi dia enggak punya pacar. Keenam, ada yang punya pacar tapi nggak bisa jemput karena tidak punya motor. Ketujuh, ada yang punya motor buat jemput pacar tapi tak punya uang buat beli bensin, lalu memaki-maki pemerintah “Kenapa sih subsidi BBM dipotong!”

Ajaibnya dari sekian banyak mahasiswa yang sibuk dengan tujuh macam kegiatan tadi, alhamdulilah masih ada secuil mahasiswa yang peduli akan tatanan universitas, salah satunya Fadlan. Tentu saja ia harus ada di garda terdepan aksi demo. Koordinator aksi demo, yakni Andra masih belum ditemukan batang hidungnya, begitu juga dengan Eno, sampai sekarang belum ada kabar ia masih hidup atau mati.

“Hadirnya rekan-rekan di sini untuk mengembalikan lagi seluruh kegiatan mahasiswa ke esensinya yang dahulu. Belajar bukan dihajar!” orasi Fadlan bergelora di tengah-tengah 920 mahasiswa yang hadir, mereka berasal dari sembilan fakultas yang berbeda.

Massa aksi demo juga membawa spanduk dengan tulisan yang dibuat menggunakan cat pilox hitam atau merah.

Kuliah kami tinggal karena keadilan telah tanggal!

Undang-undang hanya sebatas undang-undang!

Bagaimana nasib rekan-rekan kami yang harga dirinya dilucuti!

Ketiga spanduk tersebut mewakili suara tiga tuntutan yang diusung.

Tepatnya di depan Tugu Universitas, mahasiswa dan mahasiswi menggilir toa. Mereka melakukan estafet orasi. Gaya aksi demo Fadlan dan rekan-rekan memang berbeda, mereka menerapkan prinsip: “Siapapun boleh berbicara apa pun.” Gaya demo seperti ini ternyata cakap dan cukup, bijak serta bajik, bahkan hal-hal yang tidak sempat terpikirkan oleh banyak orang dapat tersampaikan dengan baik. Salah satunya Sandy Sandoro yang menyoal tentang toilet. Sandy Sandoro adalah mahasiswa Jurusan Kimia, mungkin ayahnya memberikan nama seperti itu kepadanya sebagai harapan bahwa anaknya kelak bisa lantang bernyanyi. Namun, Sandy Sandoro yang satu ini berbeda, ia bukan lantang bernyanyi, tapi lantang mengungkapkan sesuatu yang terjadi. Begini katanya:

“Bagaimana universitas yang akreditasinya bertengger di papan atas, tapi fasilitasnya tidak memadai? Bagaimana gimana ketenaran lebih diperhatikan, padahal mahasiswanya butuh perhatian? Bagaimana mungkin? Mungkin bagaimana? Setega itu, mahasiswa yang beribu-ribu ini, misal kita umpamakan dan ambil hitungan 6000 mahasiswa saja, harus berhadapan dengan enam toilet. Berarti satu toilet setidaknya di hari itu harus bisa melayani seribu mahasiswa. Ketika 1000 mahasiswa bergantian masuk toilet tanpa jeda dan menghabiskan waktu masing-masing sekitar 15 menit, maka akumulasi waktunya adalah 15.000 menit atau 250 jam, hal ini menunjukan mustahil sekali seribu mahasiswa duel dengan satu toilet.

Itu saja kalau mahasiswa tidak berbondong-bondong kebelet BAB, bayangkan kala 6000 mahasiswa kebelet BAB berjamaah? Setega itu! Setega itu kalian tidak memberikan penampungan yang layak untuk kotoran kami! Setega itu! Kalian memaksa tangan kami supaya bisa menampung sementara tai itu, sampai menemukan pendaratan yang tepat!”

Setelah beberapa jam, tiba-tiba mahasiswa yang paling dekat dengan gedung berseru, “Lihat-lihat!”

Ternyata ada Pak Aksan dan satu koleganya yang tak banyak mahasiswa kenal, menghimpit Andra dan Eno di kedua sisi. Lapisan kedua dan ketiga dipagari oleh protokoler yang siap pasang badan.

“Dari perwakilan pihak mahasiswa telah meminta berdiskusi dengan kami, dan kita mencapai kesepakatan, kesepakatan itu tertuang dalam pakta integritas,” ujar Pak Aksan, beliau adalah salah satu Wakil Rektor.

Microphone pun diserahkan kepada Andra, “Maaf! Saya dalam keadaan ditindas dan tersudut oleh sesuatu yang seharusnya bisa kalian maklumi …” sebelum selesai Andra berbicara, microphone segera direbut kembali oleh Wakil Rektor yang satunya lagi.

Timbul rasa tidak legowo atas Andra yang menyatakan tertindas saat membuat pakta integritas, dan juga diskusi yang serba tertutup serta sarat akan intervensi. Sebenarnya batin Eno dan Andra sedang berkicau-kicau ke telinga rekan-rekannya. Jika saja mulutnya yang berbicara saat itu, Eno akan menyatakan dirinya dan Andra dijemput paksa pada sore hari kemarin. Selama kemarin hingga siang ini menjelang, Eno diserang oleh rasionalisasi-rasionalisasi atas opsi yang diberikan Pak Aksan. Sebisa mungkin bara api emosi Eno dibuat timbul sehingga ia gagal berpikir. Tapi Eno tetap padam dan dingin. Namun malang di tengah diskusi kotor sesi kedua dengan Andra, bapak-bapak tua itu membisikan sesuatu yang menakutkan dan akan terjadi kepada keluarganya bila Andra tidak setuju dengan arahan dua orang itu. Eno bisa teguh, Andra tidak.

Dalam beberapa menit saja rombongan mobil polisi berdatangan, lalu turun dengan membawa perisai dan pentungan. Terdengar suara-suara pukulan benda tumpul itu dan tanpa perlawanan. Hari yang tengah terik berganti menjadi hari yang perih karena gas air mata berseliweran.

Melihat pemandangan ini, Eno tertunduk miris. Hatinya rajin menderukan kata-kata: “Saya pengkhianat? Saya pengkhianat?” Dulu Eno merasa gagal memegang amanah, yakni amanah kepada kedua orang tuanya ihwal fokus kuliah dan akan menjauhi larangan agama. Sekarang Eno kembali gagal memegang amanah yang telah disematkan ribuan mahasiswa kepadanya.

Teringat dulu kata-kata ayahnya, “Perpaduan antara lembaga universitas yang korup dan mahasiswa yang abai terhadap perkuliahannya, tidak akan pernah bisa mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi hanya mencerdaskan kehidupan bangsat!”

*Penulis merupakan mahasiswa UIN SGD Bandung Semester enam  jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir.

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas