Epaper

Tabloid Suaka Edisi Agustus 2023

KAMPUS HARUS PENUHI KEBUTUHAN MAHASISWA

Pada bulan Oktober 2022 lalu, UIN SGD Bandung disibukkan dengan uji kelayakan tingkat ASEAN, yaitu Asean University Network Quality Assurance (AUN-QA). Uji kelayakan tersebut diwakilkan oleh lima jurusan, seperti; Sastra Inggris, Perbandingan Mazhab dan Hukum, Manajemen Pendidikan Islam, serta IlmuAl-Qur’an dan Tafsir.

Jika ditinjau dari segi keunggulan, mungkin UIN Bandung selangkah lebih maju dalam mencapai visinya, yaitu menjadi Universitas Islam Negeri yang unggul dan kompetitif tingkat ASEAN tahun 2025. Akan tetapi, apakah dengan mengikuti sertifikasi ASEAN sudah sesuai dengan penerapan mutu pembelajaran di kelas?

Dalam uji kelayakan tersebut, hampir seluruh aspek akademik diikutsertakan untuk memberikan citra bahwa UIN Bandung layak mendapatkan sertifikat agar menjadi anggota AUN dan berjejer dengan universitas lainnya yang bertaraf ASEAN. Tujuan dari AUN-QA sendiri adalah untuk bertukar ilmu pengetahuan, keahlian, dan pengalaman antar mahasiswa di ASEAN.

Kalau melihat lebih dalam lagi, pembelajaran di kampus hijau ini terbilang monoton. Metode pengajaran yang diterapkan UIN Bandung hanya didominasi membuat makalah kelompok lalu mempresentasikannya di depan kelas. Hal tersebut terus dilakukan sampai akhir semester.

Di sisi lain, sejumlah jurusan juga memberlakukan pembelajaran via dalam jaringan (daring) dengan berbagai alasan, salah satunya; kurangnya ruangan kelas. Dalam pembelajaran daring, mahasiswa acapkali mengeluhkan sistem yang digunakan dosen dalam mengajar tidak optimal. Hal tersebut membuat mahasiswa tidak maksimal untuk menerapkan ilmu yang seharusnya dipelajari.

Kurangnya fasilitas kelas dan fasilitas pendukung lainnya, membuat ketimpangan antar jurusan. Belum lagi, mahasiswa hanya dituntut memenuhi kewajiban untuk absen dan mengerjakan tugas yang diperintahkan oleh dosen, tapi tidak dibarengi dengan penerapan pengajaran yang tepat, bahkan terbilang monoton.

Sering mangkirnya dosen dalam mengajar menjadi faktor mahasiswa kelabakan untuk mendapatkan pelajaran. Acap kali, dosen hanya memberikan tugas kepada mahasiswa tanpa dibarengi dengan materi yang cukup untuk dipelajari mahasiswa. Harusnya kampus memberikan kurikulum akademik yang jelas, agar mahasiswa menjadi unggul dan kompetitif.

Hal ini tentu sangat penting untuk memproyeksikan ke depannya agar kampus mencetak mahasiswa yang unggul dan kompetitif sesuai dengan visi UIN Bandung. Dengan dilakukannya sistem pembelajaran dan metode yang terbilang asal-asalan, harapan mahasiswa untuk menjadi unggul dan kompetitif sirna di tengah jalan.

Tentunya hal tersebut terkesan ‘masuk kelas hanya sekadar memenuhi syarat agar dapat mengikuti ujian dan lulus cepat’. Seharusnya kampus harus bisa memprioritaskan kebutuhan mahasiswanya saat pembelajaran di kelas. Jika kampus serius dalam menopang kebutuhan mahasiswa, dipastikan mahasiswa tidak akan mengeluhkan metode pembelajaran yang monoton. [Redaksi]

Klik link berikut untuk mengunduh Tabloid [di sini]

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Ke Atas