Epaper

Tabloid Suaka Edisi September 2015

Tabloid Suaka Edisi September 2015

Editorial

Lahan Basah Proyek OPAK

suaka-berbagi-kelezatan-dana-opakHajat tahunan Orientasi Pengenalan Akademik (OPAK) di UIN SGD Bandung ternyata amat seksi untuk ditelisik. Pasalnya, gelontoran dana miliaran rupiah yang mengalir untuk kegiatan tersebut masih minim kejelasan ihwal ke kantong siapa saja duit itu masuk.

Pada laporan dana OPAK 2014 di Musyawarah Mahasiswa Universitas (MMU) pertengahan Juli lalu, misalnya, tidak dicantumkan secara rinci bukti pembayaran penggunaan anggaran. Padahal jika kita kalkulasikan, kala itu, ada sebanyak 5.570 mahasiswa baru yang mendaftar dan diharuskan membayar Rp 175 ribu per orang. Jika kita kalikan, berarti panitia berhasil mengantongi duit sebanyak Rp 974.750 juta. Bukan tidak mungkin dengan anggaran sebesar itu- ditambah dana dari kampus Rp 33 juta- menjadi lahan basah bagi segelintir ihak yang ingin meraup keuntungan. Pun sengat disayangkan, saat pemaparan LPJ tersebut, para aktivis kampus UIN SGD Bandung yang mengikuti MMU tidak begitu kritis menanyakan adanya cacar administrasi dalam LPJ itu. Kebanyakan di antara mereka justru lebih semangat di kala pembahasan pemilihan ketua panitia OPAK.

Adapun OPAK sendiri, tiada lain merupakan tanggung jawab dari universitas. Yang sudah selaiknya ikut terjun ke lapangan, mengawasi sampai ke urusan penggunaan anggaran. Bukan malah hanya menyerahkan begitu saja dan menerima laporan seadanya dari mahasiswa, tanpa ada rasa kritis kepada para panitia penyelenggara kegiatan.

Sebagai pembandung, bila kita melihat LPJ dari beberapa organisasi kemahasiswaan intra kampus di tingkat jurusan, senat, bahkan Unit Kegiatan Mahasiswa justru lebih rapi dan rinci. Meskipun duit mereka memang berasal dari Badan Layanan Umum atau dari negara, sementara OPAK bukan, mestinya bukan jadi alasan bagi kampus untuk tak mau ambil pusing. Transparansi dana dan pengauditan secara menyeluruh bagi penyelenggaraan OPAK tetap harus dilakukan. Mengingat uang yang dikuras dari mahasiswa baru bukanlah sepeser dua peser. Melainkan ratusan juta bahkan miliaran rupiah.

Sesungguhnya saat ini bukan pula waktunya untuk kita menerapkan konsep prasangka baik. Sebab jika dibiarkan, justru hanya akan menjadi budaya tak sehat di lingkungan kampus hijau. Hal ini juga mestinya menjadi momentum bagi pelaksana kegiatan OPAK tahu ini untuk mengakhiri kebiasaan buruk kepanitiaan sebelumnya. Jangan sampai justru ikut-ikutan mencari untung di lahan basah penyelenggaraan OPAK. [Redaksi]

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas