Pembangunan biasa diidentikan dengan perkembangan, pembangunan, modernisasi dan industrialisasi. Seluruh pemikiran tersebut berdasarkan pada aspek perubahan, di mana pembangunan, perkembangan, modernisasi serta industrialisasi secara keseluruhan mengandung unsur perubahan. Namun begitu, keempat hal tersebut mempunyai perbedaan yang cukup prinsipil, karena masing-masing mempunyai latar belakang, azas dan hakikat yang berbeda serta prinsip kontinuitas yang berbeda pula, meski semuanya merupakan bentuk yang merefleksikan perubahan. Portes (1976) mendefinisiskan pembangunan sebagai transformasi ekonomi, sosial dan budaya. Pembangunan adalah proses perubahan yang direncanakan untuk memperbaiki berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dengan demikian, proses pembangunan terjadi di semua aspek kehidupan masyarakat, ekonomi, sosial, budaya, politik, yang berlangsung pada level nasional dan kelompok. Makna penting dari pembangunan adalah adanya kemajuan atau perbaikan (progress), dan pertumbuhan. Pada dasarnya, pembangunan bertujuan untuk memajukan dan memperbaiki. Bagitu pula pembangunan yang terjadi di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Sejak adanya pembangunan di kampus yang dilaksanakan pada pertengahan 2010 lalu, polemik kerap kali terjadi. Bisa jadi, hak ini disebabkan kurang terarahnya perencanaan pembangunan. Contohnya, banyak mahasiswa yang merasa tidak nyaman dan mengeluhkan kondisi pembangunan di UIN. Tentu saja ini akibat mereka mendapat tempat kurang layak untuk proses kegiatan belajar mengajarnya. Selain berdampak pada kegiatan belajar mahasiswa, pedagang juga merasakan dampak yang kurang mengenakan dari adanya pembangunan kampus UIN ini. Semua civitas akademik UIN kiranya mendukung terhadap pembangunan kampus, karena tujuan pembangunan adalah untuk memperbaiki fasilitas dan sarana prasarana. Namun, pihak rektorat seharusnya merencanakan dengan sangat matang langkah mana yang terlebih dahulu diambil dalam pembangunan. Jangan sampai mahasiswa beranggapan bahwa pembangunan menghambat kegiatan pokok mereka di kampus, baik berupa aktivitas belajar atau pun berorganisasi. Di sisi lain, mahasiswa pun jangan cuma bisa protes tanpa memiliki solusi konkret. Jangan pula terus-terusan mau enaknya saja, tanpa mau berkorban. Sesuai pendapat Kepala Bagian Umum UIN Sunan Gunung Djati Bandung Jainudin, terlaksananya pembangunan bukan upaya untuk menghambat proses belajar dan membunuh kreativitas mahasiswa, namun pembangunan harus dipandang sebagai upaya untuk menuju kearah kemajuan. Mahasiswa diharapkan jangan berpikir negatif terhadap pembangunan yang kini dijalankan oleh kampus. Kita harus memiliki pandangan jauh ke depan. Walaupun civitas akademik merasa terganggu karena adanya pemindahan lokasi kegiatan yang jauh dari kampus, namun itu untuk sementara. Setelah pembangunan selesai kita akan memiliki kampus yang megah dengan fasilitas lengkap. Bukankah itu yang diidam-idamkan seluruh civitas akademik? Jadi, tidak bisakah kita sedikit berkorban demi kemajuan kampus ini?

