Kampusiana

AKAR TEKI 2.0: Wujud Gerak Nyata Mahasiswa Agroteknologi UIN Bandung

Ketua Rukun Warga (RW) 14 Desa Mekarmanik, Juhaeri memberikan sambutan pada bakti sosial di Masjid Jamie Al-Hidayah Desa Mekarmanik, Cimenyan, Bandung, Kamis (20/7/2023). (Foto: Rangga Nugraha/Suaka).

SUAKAONLINE.COM – Himpunan Mahasiswa Jurusan Agroteknologi (HIMAGI) UIN SGD Bandung menggelar Aksi Masyarakat Agroteknologi Mengabdi (AKAR TEKI) 2.0 di Desa Mekarmanik, Cimenyan, Bandung, Kamis (20/7/2023).  Dengan mengangkat tema “Peran Mahasiswa Agroteknologi dalam Membawa Iklim Perubahan Menuju Pertanian Berkelanjutan” HIMAGI bertujuan untuk mengedukasi, penyuluhan dan praktik pertanian kepada masyarakat.

Ketua pelaksana, Akmal Hibatullah menegaskan bahwa tema yang diusung selaras dengan kondisi pada tempat mereka mengabdi. Hasil observasi menunjukan bahwa petani di Desa Makarmanik sangat bergantung pada bahan-bahan kimia dalam proses pertanian mereka. Hingga hal demikian menjadi masalah yang krusial untuk diselesaikan.

“Desa Mekarmanik itu kecenderungan terhadap kimia organik sangat besar. Sehingga ini menjadi tantangan bagi petani kedepannya gitu ya. Untuk juga kita bisa sama-sama merubah iklim tersebut menjadi pertanian berkelanjutan atau organik,” ucapnya saat ditemui Suaka di sela acara, Kamis (20/7/2023).

Akmal pun menjelaskan bahwa jika para petani bergantung pada pupuk kimia, tanah akan mengalami penurunan kadar kalsium. Akibatnya, lahan-lahan pertanian tidak akan subur kembali. Maka ia mengajak masyarakat sekitar untuk beralih kepada penggunaan pupuk organik. Sehingga para petani dapat melanjutkan kegiatan bertani hingga puluhan tahun mendatang.

“Maka kalau misalkan kita ketergantungan pada pupuk kimia, Pertanian ini akan mati gitu. Lahan-lahan akan tidak subur lagi, tidak subur kembali  gitu. maka dengan beralihnya ke pupuk organik atau pertanian organik itu bisa melanjutkan kembali kegiatan pertanian hingga puluhan-puluhan tahun,” jelasnya.

Ketua Rukun Warga (RW) 14 Desa Mekarmanik, Juhaeri meresahkan hal yang sama dengan Akmal. Ia merasakan pula kekosongan peran pemerintah dalam masalah pertanian. Jika Akmal menyarankan adanya penggantian pupuk kimia, Juhaeri hanya meminta adanya bantuan berupa peralatan tani atau bantuan sosial lainnya yang diberikan kepada warga setempat.

“Dulu-dulu sih ada (bantuan pemerintah -red) semenjak ada kelompok tani baru berdiri, sering itu bantuan-bantuan untuk lahan pertanian maupun alat pertanian. Tapi kesininya sudah gak ada lagi bantuan-bantuan dari pihak pemerintah untuk pertanian, maupun alat tani, terus bantuan-bantuan sosial yang lainnya itu gak ada lagi,” keluhnya, Kamis (20/7/2023).

Juhaeri merespon baik mengenai keterlibatan mahasiswa dalam pertanian di desanya. Dengan kurangnya bantuan dari pemerintah, kehadiran mahasiswa terasa sangat membantu untuk warga. Salah satunya adalah dengan pemaksimalan pupuk organik yang ia harap bisa terus dilanjutkan oleh warga.

“Sedikit-banyaknya mahasiswa yang kunjungan ke sini bisa membantu untuk mengusulkan segala kebutuhan warga sekitar, terutama di daerah ini, khususnya daerah Mekarmanik. Kan mahasiswa ini menganjurkan beberapa teknis yang utamanya itu pertanian kan. Mudah-mudahan warga sekitar sini itu bisa mengikuti apa yang diarahkan oleh mahasiswa yang diadakan di sini,” pungkasnya dengan penuh harap.

Reporter: Rangga Nugraha/Suaka

Redaktur: Muhammad Fajar Nurohman/Suaka

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Ke Atas