" > 2 mnt membaca"> Encus : Berkesenian Itu Mengasyikan - Suaka Online
Kampusiana

Encus : Berkesenian Itu Mengasyikan2 mnt membaca

Ketua Serikat Pekerja Mandiri Bersatu (SPMB), Asep Mulyadi. (SUAKA/Isma Dwi).

Ketua Serikat Pekerja Mandiri Bersatu (SPMB), Asep Mulyadi. (SUAKA/Isma Dwi).

SUAKAONLINE.COM– Kiwari seniman dayeuh bandung/ tong hariwang komo deui saleumpang/ berkesenian//  kudu ngarasa bungah/ pamarentah geus nyaah/ ku ayana peraturan daerah// kalintangan nuhunkeun/ ti atas nami saniman/ kapapayung agung nu aya di dayeuh bandung// pamenta ti pamarentah/ keur kamajuan urang dina berkesenian/  boga ajeung jeung wibawa//

Suara lantang nan merdu serta kepercayaan diri jelas terpancar dari seniman Asep Mulyadi, saat melantunkan lagu perda kesenian.Lirik demi lirik dan bermacam-macam alat musik pun berhasil diraciknya menjadi lantunan yang begitu memanjakan setiap pasang telinga yang mendengarnya.

Pria kelahiran 10 April 1982 ini merupakan Ketua Serikat Pekerja Mandiri Bersatu (SPMB), serikat pekerja Cleaning Service UIN SGD Bandung, ia juga memiliki kecintaan terhadap kesenian sunda. Senyum lembutnya mengawali perbincangan hangat saat itu.

Encus sapaan akrabnya mengawali karirnya sebagai seniman dengan bermain calung. Ia mengaku sejak kecil sering sudah diperkenalkan orangtuanya seputar kesenian calung. Keseriusan dan keinginannya untuk melestarikan kesenian muncul saat ia duduk dibangku SMP kelas dua, yaitu dengan membentuk grup calung bersama teman-temannya.

Tak hanya itu, Encus pernah mendapat apresiasi dari Walikota Bandung Ridwan Kamil, yakni dengan lagu ciptaannya bertemakan pelestarian seni tradisional yang terinspirasi dari Peraturan Daerah No.5 Tahun 2012 dan Peraturan Walikota No. 059 Tahun 2013. Hal tersebut merupakan sebagai bentuk rasa terimakasihnya sebagai seniman kepada pemerintah.

Di tahun 2009, Encus mulai melebarkan sayapnya dengan mendirikan sanggar seni, yang berfokus pada tari jaipong dan upacara adat. Hingga saat ini ia memiliki binaan dari kalangan siswa sekolah dasar hingga mahasiswa.

“Menjadi seniman tidak ada yang jago, melainkan harus terus belajar dari panggung ke panggung,” ungkap pria yang sudah memiliki album Sentral Wisata Terpadu Manglayang.

Baginya, berkesenian adalah hal yang mengasyikan. Namun, ia menyayangkan penghasilan sebagai seniman terbilang tidak menentu seperti penghasilan clening service. Ketika disinggung pembagian waktu dan prioritas, ia lebih memilih profesi sebagai cleaning service dibandingkan dengan seniman. Apabila ada panggilan pentas, dirinya memanfaatkan hari libur seperti Sabtu dan Minggu untuk tetap melestarikan kesenian tradisional.

Setelah sukses menciptakan lagu bertemakan pelestarian keseniaan tradisional, dalam waktu dekat ini dirinya akan menciptakan lagu terbarunya berjudul Bandung Juara. “Sekarang Kang Emil juga ada Bandung Juara, InsyaAllah bikin lagu lagi,” tutupnya diakhir cerita.

Reporter : Isma Dwi Ardiyanti

Redaktur : Ibnu Fauzi

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas