Kampusiana

Gelar Diskusi Budaya, Teater Awal Bandung Bedah Naskah Semar Gugat

Salah satu narasumber dalam diskusi budaya, Alan Talor menyampaikan latar belakang mengangkat naskah Semar Gugat pada diskusi budaya di Aula Meeting Room Gedung Student Center lantai 1, UIN SGD Bandung, Senin (8/5/2023). (Foto: Nia Nur Fadillah/Magang).

SUAKAONLINE.COM – Teater Awal Bandung menggelar kegiatan diskusi budaya bertajuk ‘Membaca Indonesia Melalui Semar Gugat’, di Aula Meeting Room Gedung Student Center lantai 1, UIN SGD Bandung, Senin (8/5/2023). Diskusi ini digelar dalam rangka memperingati 100 hari wafatnya almarhum Nano Riantiarno dan promosi pementasan Teater Awal Bandung dengan naskah Semar Gugat.

Ketua pelaksana diskusi budaya, Sahara Pides menyebutkan latar belakang dari diadakannya diskusi ini untuk membedah lebih dalam naskah semar gugat dan mencari relevansi naskah tersebut dengan keadaan Indonesia saat ini. Selain itu, diskusi ini juga menjadi ajang promosi Teater Awal dalam pementasan Semar Gugat yang akan datang dengan meluncurkan poster resmi, membuka tiket pra penjualan, dan open order booklet Semar Gugat.

“Sebenarnya ini menyangkut ke kenapa kita memilih naskah Semar Gugat.  Kebetulan karena Indonesia saat ini kan kita sedang menuju acara Pilpres (Pemilihan Presiden -red) ya kak. Nah itu naskah ini tuh emang sebelumnya dipentaskan pada saat tanggal-tanggal atau di bulan-bulan menuju Pilpres. Jadi ini berkaitan dengan kondisi Indonesia saat ini, dan juga kita ingin balik lagi ke yang barusan, ingin membedah naskahnya,” ucapnya (8/5/2023).

Ia juga menjelaskan bahwa naskah Semar Gugat bukanlah berdasarkan cerita asli, namun berbentuk surealisme. Surealisme adalah aliran karya seni yang cukup populer di masyarakat yang menunjukkan konsep kontradiksi mimpi dan realita dengan objek nyata dalam situasi yang tidak mungkin seperti alam bawah sadar manusia. “Karena sebetulnya naskah ini emang surrealis ya, enggak real gitu loh.  Jadi kenapa kita memilih naskah ini padahal ini enggak real,” ujarnya.

Di samping itu, menurut salah satu narasumber diskusi budaya, Alan Talor mengatakan bahwa naskah Semar Gugat yang dibuat pada tahun 1995 masih relevan dengan kondisi negara Indonesia saat ini. “Meskipun naskah seminar ini dibuat pada tahun 1995, tapi relevansi dengan konteks saat ini yang masih dekat dengan sosial politik, ekonomi, dan sebagainya masih relevan”, tambahnya.

Salah satu peserta diskusi dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Rupa dan Design (SRD), Zahran mengungkapkan bahwa dengan mengikuti diskusi budaya dan membedah naskah Semar Gugat memberikan kesimpulan bahwa respons bisa dari segala arah, tidak hanya kalangan mahasiswa ataupun petinggi-petinggi, tapi semua orang bisa memberikan respons-respons politis.

“Tadi, dari naskah-naskah yang coba saya simak seolah-olah memberikan kita kesimpulan bahwa sebetulnya respons itu bisa dari segala arah, tidak hanya dari lapisan mahasiswa, tidak hanya petinggi-petinggi. Maka, simbolisasi semar itu seolah-olah semua orang bisa untuk merespons kenyataan-kenyataan politis”,

Selain itu, Zahran juga menambahkan bahwa dengan mengikuti diskusi ini bisa memberikan wawasan baru tentang kebudayaan-kebudayaan yang belum diketahui. “Saya merasa bahwa wawasan-wawasan kebudayaan yang sebelumnya saya tidak dapatkan dan sekarang akhirnya saya dapatkan gitu”, ujarnya.

 

Reporter: Nia Nur Fadillah & Ilham Hidayatulloh/Magang

Redaktur: Mohamad Akmal Albari/Suaka

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Ke Atas