Kampusiana

Kuliah Jam Malam FEBI Dikeluhkan, Pembelajaran Berganti Secara Online

Ilustrasi: Arie Rio Prayoga/Suaka

SUAKAONLINE.COM – Raut wajah seorang mahasiswa jurusan Ekonomi Syariah (Eksyar), Nabila tampak kaget ketika melihat jadwal mata kuliahnya ada jam malam. Mahasiswa semester lima itu merasa keberatan dengan adanya jam malam yang diterapkan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI).

Ia kebagian dua mata kuliah jam malam, yaitu; metodologi penelitian sebanyak tiga sks, dari pukul 18.30-21.00 malam, dan studi kelayakan bisnis dua sks, dari pukul 18.30-20.10. Menurutnya hal tersebut dirasa tidak tepat jika diterapkan pada jenjang kuliah S1, ditambah UIN Bandung tidak ada kelas karyawan yang harus menetapkan jam malam.

Terlebih jam malam membuat Nabila dan temannya merasa keberatan sebab jarak yang harus ditempuh ke kos saat malam membuatnya tidak tenang. “Kita nggak bisa menghindari jika ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Apakah pihak FEBI menjamin kami bisa pulang dengan selamat ke tempat tinggal masing-masing,” ujar Nabila, Selasa (12/9/2023).

Selain itu, perkuliahan jam malam menyita banyak waktu bagi Nabila. Ditambah Nabila bekerja sampingan sebagai guru privat, di mana jam kerjanya mulai dari sore sampai malam. Dengan terpaksa ia harus mengatur jadwalnya kembali agar tidak bentrok.

“Kesibukan saya juga tidak hanya berkuliah, tetapi kerja sampingan sebagai guru privat di mana jam kerja saya itu mulai dari kurang lebih 17.30 sampai 19.30 di dua tempat yang berbeda menjadikan saya harus re-schedule lagi waktu-waktu saya dan itu tidak mudah,” lanjutnya.

Di sisi lain, mahasiswa jurusan Manajemen semester lima, Reni Anggia merasakan hal yang sama dengan Nabila. Akan tetapi, ia hanya mendapatkan satu mata kuliah saja untuk jam malam, yaitu mata kuliah Pasar Modal sebanyak tiga sks, dari pukul 18.30-21.00.

Sama seperti Nabila, ia keberatan dengan diberlakukan-nya jam malam. Ia mengeluhkan jadwal padat dari hari Senin sampai Sabtu, di mana waktu ia untuk istirahat sangat minim. Belum lagi tugas dari dosen menambah beban kerja Reni.

“Setiap dosen itu udah ngasih banyak tugas (mulai dari -red), makalah, jurnal, dan lain sebagainya. jadi ketika dosen meberikan perkuliahan di malaam hari itu kapan waktu mahasiswa buat mengerjakan tugas tersebut, kapan waktu mahasiswa buat berkegiatan lain, atau mungkin buat anak-anak organisasi kapan mahasiswa itu punya kegiatan buat mengeksplor dirinya di luar kampus,” keluh Reni, Rabu (12/9/2023).

Selain mahasiswa, Suaka juga mewawancarai dosen FEBI, Agus Joharudin untuk dimintai tanggapannya terkait jam malam. Menurut Agus jam malam bukan jam ideal untuk dilakukan dalam pembelajaran. Akan tetapi, Agus tidak bisa menolak sebab arahan langsung dari pimpinan FEBI.

“Kalau untuk kesulitan, tentunya ada karena waktu kuliah malam bukan waktu yang ideal untuk KBM (Kegiatan Belajar Mengajar -red) dalam setting kelas. Kalau untuk keberatan, tidak karena kalau sudah ditugaskan oleh pimpinan selama itu dalam batas tanggung jawab kita, maka tetap harus dilaksanakan,” ujarnya, Jumat (22/9/2023).

Pembelajaran diganti jadi daring

Banyaknya keluhan dari Nabila dan teman sekelasnya membuat jadwal jam malam yang asalnya luring berganti jadi daring. Selain itu, untuk mata kuliah kelayakan bisnis beralih waktunya menjadi siang hari. Hal tersebut sesuai dengan kesepakatan antara mahasiswa dan dosen. Akan tetapi ia harus menyesuaikan kembali antara ruang kelas dan jam kosongnya.

“Itu juga karena kesepakatan dosen dan mahasiswa serta ketersediaan ruangan dan waktu yang harus dicocokkan terlebih dahulu. Mudah-mudahan sampai seterusnya sih siang kuliahnya untuk mata kuliah studi kelayakan bisnis,” tutunya.

Meski jadwal pembelajaran sudah beralih menjadi daring, namun tetap saja tidak berjalan efektif. Menurut Nabila, untuk mata kuliah seperti metodologi penelitian seharusnya jadwalnya pada pagi hari atau sebelum dzuhur. Lebih dari itu, hal yang dikhawatirkan Nabila, saat pembelajaran kelas malam materi yang disampaikan dosen tidak dapat direalisasikan outputnya.

“Simple-nya kalau metodologi penelitian disimpan di jam malam, mahasiswa sudah nggak fokus. Bayangkan aja, 3 sks dari jam 18.30 sampai 21.00, apalagi itu mata kuliah yang important banget gitu. yang tadinya diharapkan kami bisa maksimal menerima materi, dan dapat merealisasikan output yang diharapkan dosen bisa saja itu nggak terwujud ada peluangnya,” lanjutnya.

Senada dengan Nabila, Agus mengungkapkan konsekuensi terhadap kuliah jam malam memengaruhi konsteransi mahasiswa. Tidak hanya kepada mahasiswa saja, dampaknya pun dirasakan oleh dosen, apalagi jika jadwal dipadatkan dari pagi hingga malam.

“Konsekuensinya KBM dilaksanakan di jam malam bisa pada konsentrasi dalam mengikuti kegiatan di kelas. Kalau ada yang jadwalnya padat misalkan dari pagi sampai malam, baik dosen maupun mahasiswa maka dapat dipastikan konsentrasinya akan berkurang,” tutunya.

Berbeda dengan Nabila, Reni menjalani kuliah malam dari awal pertemuan sudah daring. Akan tetapi, tetap saja Rani merasa keberatan dengan adanya jam malam. “Aku sangat tidak setuju karena pertama kita kuliah itu ada yang dari senin sampai sabtu, terus juga ada kuliah malam meskipun secara online,” jelasnya.

Kurangnya kelas di FEBI dan rencana pindah ke kampus 2

Dalam sejarahnya, FEBI baru terbentuk pada tahun 2018. Untuk gedungnya pun FEBI masih menggunakan gedung yang asalnya dipakai oleh kopertais –kini kopertais dipindahkan ke kampus 2–. Ruangannya pun terbatas, hanya memiliki 17 ruang kelas belajar dan satu aula.

Dalam beberapa waktu terakhir, FEBI terus berusaha untuk menyesuaikan jadwal mata kuliah. Sebelumnnya, pada semester genap, FEBI memangkas sks sejumlah mata kuliah dan menerapkan jam ke-0. Alasannya tentu saja untuk menyesuaikan ruang kelas.

Kurangnya ruangan kelas acapkali dikeluhkan oleh mahasiswa FEBI. Seperti Nabila dan Reni. Mereka sepakat adanya jam malam ini alasannya karena kurangnya kelas. Bahkan menurut Reni aula pun pernah digunakan sebagai tempat belajar. Hal tersebut juga dikatakan oleh Agus. Alasan jelas yang diterapkan FEBI karena terbatasnya ruang kelas.

“Kalau pindah jam dan di ruang kelas, sepertinya sulit jadi untuk kelas malam, semuanya online. Soalnya alasan ada kelas malam juga karena alasan ruang kelas terbatas,” ucap Agus.

Keluhan dari mahasiswa dan dosen terkait jam malam ini menimbulkan polemik di antara mahasiswa, dosen, OB. Tak terkecuali Rektor UIN Bandung, Rosihon Anwar yang melarang adanya jam malam di UIN Bandung. Menanggapi hal tersebut Suaka menemui Dekan FEBI, Dudang Gozali mengenai jam malam ini.

Menurutnya penerapan jam malam ini dikhususkan untuk semester lima dan tujuh saja. Dudang mengatakan alasan semester lima dan tujuh, sebab mata kuliahnya tidak sepadat semester satu dan tiga. Atas pertimbangan para pimpinan FEBI maka diterapkan jam malam tersebut.

Tak lama kebijakan tersebut diimplementasikan, jam malam secara luring ditiadakan. Ia menyebutkan perubahan ini terjadi karena adanya kritik dari petugas kebersihan, staf Tata Usaha (TU) dan mahasiswa.

“Bukan hanya mahasiswa yang merespon, OB (Office Boy), terus TU juga keberatan, kedodoran lah. Akhirnya kita tarik dengan cara belajar daring (online). Disiasati, disepakati antara dosen dan mahasiswa-nya,” tuturnya.

Sebelum jam malam secara luring ini ditiadakan, pernah ada kejadian sekelas mahasiswa dan dosen yang terkunci dalam gedung. Hal tersebut pun dibenarkan oleh Dudung. Menurutnya ada ketidaksiapan dari pihak OB atas diberlakukan jam malam ini.

“Salah satunya evaluasi kita ternyata memang selain mahasiswa keberatan, juga adalah kendala ketersediaan SDM, OB. Kan OB itu jam kerjanya hanya sampai sore, nah sore itu mereka gak lagi. Kan kecuali kita harus membayar, ternyata kita tidak mempunya kemampuan untuk membayar lagi, dan OB keberatan. Salah satunya pertimbangan itu kenapa ditarik kembali,” jelasnya.

Melansir dari instagrafis LPM Suaka, penerimaan mahasiswa baru tahun 2023, FEBI menerima sebanyak 789 maba. Jika dilihat dari segi kuantitas mahasiswa dan kelas, tentunya sangat tidak seimbang. Menurut Dudung alasan FEBI menambah rombel tersebut karena proyeksi ke depan FEBI akan dipindahkan ke kampus 2.

Dudang menyampaikan di bulan Februari tahun 2024, FEBI akan resmi berpindah jika pembangunan gedungnya selesai di bulan Desember tahun ini. Ia juga mengakui ketersediaan fasilitas di fakultas masih kurang. Karena itu, ia mengusahakan secara maksimal dan mengimbangi antara UKT dan pelayanannya

“Waktu itu kita menyanggupi karena ketersediaan nanti di proyeksinya di 2024 (FEBI bakal pindah ke kampus 2 -red),” jelas Dudung.

Reporter: Arie R Prayoga/Suaka

Redaktur: Yopi Muharam/Suaka

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas