Matinya Manusia di Tengah Pandemi

Date:

- Advertisement -
Ilustrasi: Refkyan Mauldan/Magang

Oleh: Chamid Nur Muhajir*

Rubuh, Terseok-seok tubuhku dalam kerumunan

Peluh mengurat jatuh dari air mata kegelisahan

Mati karena lapar atau mati karena pesakitan

Matiku karena ketamakan

…

Lapar… Takut

Takut… Lapar… Sakit

Sakit… Lapar

…

Sembako! Sembahku padamu

Secuil bagianmu kupuja untuk hamba rasa lapar

Kutukan kuhaturkan pada penimbun kalian

Sembako! Kaummu adalah bangsawan budiman

…

Begundal… Bangsat

Bangsat… Begundal… Penjilat

Selamat… Selamat

…

Rusak semua akal

Para penjilat mengurung bangsawan

Hanya mereka yang ingin selamat

Kami juga harus

…

Bakar… Bunuh

Pasung mereka!

Kubur

…

Hanya letik darah yang tersisa

Erungan-erungan perut sudah membutakan

Hati sudah digadai

Kemanusiaan diobral tak berharga

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Manajemen Keuangan Syariah semester empat dan anggota magang LPM Suaka 2020

Share post:

Popular

Berita Terkait

Aku Yang Bisu

*Oleh: Qarin Qurnaeni Katanya, aku napas bumiKatanya, aku layaknya urat...

Merdeka, untuk siapa?

*Oleh: Imam Syaban Abdurrahman Delapan puluh satu tahun telah berlalu,bendera...

Sayang, Aku Perempuan

*Oleh: Qonita Razinatul Amani Sayang, aku perempuan Aku lahir bersama...

Di Antara Sembilan Kursi

Mentari pagi mulai merangkak naik, mengantarkan langkah kaki Andre...