Kampusiana

Purgatory: Pemutusan Rantai Dosa Orang Tua

Seniman dari Teater Awal Bandung menampilkan teater berjudul “Purgatory” di Aula Student Center UIN SGD Bandung, Minggu (13/02/2022). (Nur Ainun/Suaka)

SUAKAONLINE.COM – Teater Awal Bandung menggelar pementasan teatrikal dengan judul “Purgatory” di Aula Student Center UIN SGD Bandung, Minggu (13/02/2022). Pementasan keliling ini digelar di tiga daerah yaitu Ciputat 5-6 Februari lalu, Bandung 12-13 Februari, dan Garut 19 Februari mendatang.

Ketua Pelaksana, Firman menjelaskan pementasan keliling ini adalah agenda tahunan Teater Awal Bandung. Adapun tujuan pementasan keliling ini untuk memperkuat tali silahturahmi dengan pegiat teater lainnya. Sekaligus menjadi ajang memamerkan karya-karya dari anggota Teater Awal Bandung.

“Iya sebenernya agenda ini masuk ke program kerja kita yaitu pentas keliling. Pentas ini kebetulan merupakan pementasan kedua, yang pertama pada tahun 2021 kemarin. Tujuan pementasan ini adalah sebagai tali silahturahmi antar teater di kota-kota lain dan membawa karya juga,” ujar Firman, Minggu (13/02/2022)

Inti cerita yang diangkat dalam pementasan ialah seorang ayah mencoba melakukan pemutusan dosa. Di awali dengan bercerita kepada anaknya tentang masa lalunya yang kelam. Namun, pada akhirnya sang ayah membunuh anaknya karena takut melakukan kesalahan yang sama sepertinya.

“Kalo diambil dari konteks kekinian, Purgatory adalah orang tua membunuh anaknya dengan berbagai alasan demi memutus rantai dosa yang pernah dilakukannya dulu atau orang-orang sebelumnya. Karena itulah Purgatory disebut api pensucian,” jelas sang sutradara Dhany.

Salah satu pemain Sultan Faiz menyebutkan butuh waktu 2 bulan bagi para pemain dalam melakukan latihan. Para pemain dan kru di balik layar harus menyesuaikan diri ketika berlatih dengan fasilitas yang seadanya. Karena fasilitas yang disediakan kampus belum sepenuhnya mendukung untuk latihan pementasan kali ini.

“Untuk pendalaman peran itu 2 bulan, tapi normal biasanya itu 3 bulan, mulai dari reading, casting, blocking. Kalo kendala lainnya itu mungkin ruang beprosesnya, ya kaya tempat contohnya, kalo di Student Center itu jam 4 kan tutupnya. Sedangkan kita bisa make lighting dan infokus, kan saat keadaan gelap,” keluh Faiz.

Walaupun dengan persiapan yang singkat dan menggunakan fasilitas seadanya, pementasan ini mendapat apresiasi baik dari penonton. Mulai dari penataan, alur cerita, pembawaan peran, sound, hingga lighting, membuat pesan dari pementasan ini tersampaikan ke penonton.

“Tanggapan saya mengenai pementasan tadi sih keren ya, dilihat dari segi maping-nya, dari alur atau skenarionya, itu berhasil banget sampe nyentuh ke hati. Ditambah dengan sound-nya jadi pas banget,” pungkas salah satu penonton, Dendi Saprudin.

Reporter         : Alisya Darmayanti dan Dheny Puspitasari

Redaktur        : Fuad Mutashim

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Ke Atas