Kampusiana

Skripsi Tidak Dihapus, UIN Bandung Pertimbangkan Tugas Akhir yang Lain

(Dok.Suaka)

SUAKAONLINE.COM – Di penghujung bulan Agustus lalu, Selasa (29/9/2023), ramai perbincangan atas Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Permendikbudristek) No. 53 Tahun 2023 Tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi, yang berisi bahwa program sarjana atau D4 tidak diwajibkan membuat skripsi untuk syarat kelulusan.

Menanggapi isu tersebut Wakil Rektor 1 UIN SGD Bandung, Dadan Rusmana menegaskan bahwa skripsi tidak dihapuskan dan masih digunakan. Tetapi dapat digantikan dengan pilihan tugas akhir lainnya. Ia menyampaikan, tugas akhir di kampus hijau hanya terdapat dua opsi, yakni skripsi dan jurnal. Selanjutnya, keragaman bentuk tugas akhir, seperti laporan penelitian yang sesuai dengan potensi mahasiswa.

“Bagi yang Saintek (Fakultas Sains dan Teknologi -red) diberikan keluasan nanti tugas akhirnya dalam bentuk laporan-laporan penelitian. Ya kan tidak mesti 100 halaman kalau yang di Saintek, 75 juga sesak,” jelasnya, Kamis (7/9).

Sementara itu, di jurusan Sastra Inggris, Dadan menjelaskan adanya tugas akhir membuat drama script yang dilanjutkan dengan performance. Bahkan bentuk lain yang bisa dipertanggungjawabkan, menurut Dadan diperbolehkan dan akan dipertimbangkan terlebih dahulu. Tugas akhir selain skripsi akan dibahas di Kementerian Agama (Kemenag) secara kelembagaan melihat karakteristik setiap program studi dan fakultas.

“Kemudian misal mau mengajukan hasil labnya kemudian belum di hak patenkan, ya hak patenkan, ada SOP nya. Jadi masing-masing punya SOP dan itu jadi kelebihan-kelebihan,” lanjutnya.

Bentuk Lain Tugas Akhir

Sejak tahun 2019 di Fakultas Ushuluddin sudah ada mahasiswa yang membuat jurnal. Meskipun demikian, Dadan menegaskan bahwa penulisan jurnal tetap melalui berbagai proses, mulai dari pengajuan proposal, melakukan penelitian, dan bukti penelitiannya juga harus ada. Namun, bedanya jika skripsi tidak harus dipublikasi, sedangkan jurnal wajib publikasi. Jika membandingkan tingkat kesulitan antara skripsi dan jurnal, itu dikembalikan lagi kepada kemampuan mahasiswa.

“Ya spirit-nya adalah, pertama mengapresiasi semua bentuk laporan dari penelitian kita, tetep basisnya kan penelitian. Ada yang memang penelitian murni, ada yang penelitian-penelitian untuk pengembangan, ada yang bentuknya lebih pada praktik. Semangatnya itu mengapresiasi karena keragaman sesuai dengan potensinya masing-masing, kemampuannya masing-masing. Kemudian yang kedua, dengan keragaman itu mudah-mudahan kan nanti akan sesuai dengan kompetisi dan kemampuan,” ungkapnya.

Ataupun bagi mahasiswa prodi Ekonomi juga diperbolehkan mengganti skripsi dengan penjualan produk, seperti produk-produk makanan halal atau hijab yang dapat diterima oleh masyarakat muslim di Eropa. Para pengusaha juga mungkin akan berkontribusi untuk memasarkannya.

Dadan juga menambahkan bahwa mahasiswa dari berbagai jurusan bisa berkolaborasi dalam pengerjaan tugas akhir. Namun, untuk tercurahnya ide atau gagasan terkait kebijakan ini, menunggu kebijakan dari Kemenag.

“Boleh nanti ada kerja kolaboratif. Misalnya 3 atau 4 orang bergabung menggarap sebuah proyek. Yang dari Saintek-nya misalnya bahan-bahannya itu diteliti tentang kehalalannya. Dari Sastra Inggris itu create tentang copywriting-nya, Boleh misalnya dari Saintek juga bikin website untuk promosi produk, bisa jadi nanti dari Ekonomi itu bagaimana memasarkannya, membangun jejaring networking-nya, agency-nya seperti apa gitu. Kan bukan hanya promo kan, tapi bagaimana dihitung transitnya, cara menghitung cost-nya juga kan orang-orang Ekonomi Syariah juga mungkin harus bisa, akuntansi ya,” tuturnya.

Selanjutnya, jenjang pendidikan S2 dan S3 tidak diwajibkan memublikasikan di jurnal internasional, perguruan tinggi diberikan kebebasan dalam menetapkan kebijakannya. Meskipun demikian, terdapat pilihan lain seperti diseminasi. Artinya, mahasiswa diharuskan menyalurkan gagasannya melalui seminar dengan menghadirkan pembicara, dan melibatkan mahasiswa dari perguruan tinggi lain.

Skripsi Tetap Penting Bagi Prodi Tertentu

Lain halnya dengan dosen prodi Sastra Inggris, Dian Nurahman. Baginya, skripsi menjadi hal yang krusial sebagai syarat kelulusan mahasiswa. Sebab, hal ini menjadi pembeda antara pendidikan S1 di Indonesia dengan pendidikan S1 di luar negeri.

Tak hanya itu, Dian juga menuturkan bahwa di Amerika Serikat, jenjang pendidikan S1 tidak ada penulisan laporan penelitian, tetapi tingkat literasi di negara tersebut sudah bagus sehingga mereka akan bisa mengejar hal-hal yang tidak diajarkan dengan mandiri. Berbeda dengan Indonesia yang tingkat literasinya masih rendah.

Lebih lanjut, sebagai dosen prodi Sastra Inggris, di mana prodi ini merupakan ilmu murni bukan ilmu praktek. Artinya, mahasiswa di prodi ini harus mampu berkontribusi untuk perkembangan ilmu itu sendiri dengan melakukan penelitian atau menulis laporan penelitian. Oleh karena itu, Dian menegaskan kembali bahwa skripsi tetap menjadi pilihan utama.

“Jadi bagi saya tetap untuk tidak akan mengatakan harga mati itu skripsi, tetapi untuk sementara ini belum ada yang bisa setara menggantikan skripsi khususnya Sastra Inggris, tuturnya saat diwawancarai di gedung V, Fakultas Adab dan Humaniora, Senin (18/9).

Meskipun demikian, di prodi Sastra Inggris sudah ada mahasiswa yang sudah ujian proposal dan ingin membuat jurnal sebagai syarat kelulusannya. Sedangkan, banyak mahasiswa yang memublikasikan jurnal, tetapi kebanyakan bukan sebagai syarat kelulusan.

Sementara itu, salah satu mahasiswa jurusan Hukum Ekonomi Syariah semester tujuh, Yugi Habibi Mulyaman mendukung untuk tugas akhir mahasiswa selain skripsi. Ia berpandangan tidak sedikit kasus mahasiswa yang stress menghadapi skripsi, seperti mencari data, narasumber dan menemui dosen pembimbing.

Ia juga menyampaikan ketertarikan apabila tugas akhir adalah membuat suatu proyek atau prototipe. “Misal diganti dengan proyek kayak misalnya anak teknik, kalau dia D4 atau S1 terapan dia bikin satu produk atau meneliti satu produk, lalu dibikin skripsinya, kayak gitu yang mana itu kan prototipe juga, kalau misalkan proyek, proyeknya apa dulu. Apakah proyek sosial atau proyek tentang ilmu yang diterapkan, itu lebih menarik karena kita cakupan S1 tapi rasa anak D4 atau anak vokasi yang mana mereka belajar ilmu terapan, kan kita lebih ke hanya teori saja,” jelasnya, Senin (11/9).

Reporter: Bertha Anastasha & Elsa Adila/Suaka

Redaktur: Mohamad Akmal Albari/Suaka

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Ke Atas