Kampusiana

Aksi Refleksi September Hitam, Tagih Komitmen Negara Tuntaskan Pelanggaran HAM

Orator dari mahasiswa Hukum Tata Negara menyampaikan tuntutannya dalam aksi September Hitam di depan Fakultas Syariah dan Hukum, Kampus 1 UIN SGD Bandung, Kamis (14/9/2023). (Akhmad Ridlo Rifa’i/Suaka).

SUAKAONLINE.COM- Himpunan Mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara (HTN) menggelar aksi refleksi peringatan September Hitam, di depan Gedung Fakultas Syariah dan Hukum UIN SGD Bandung, Kamis (14/9/2023). Refleksi ini diadakan dalam rangka mengenang pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang pernah terjadi selama beberapa dekade ke belakang.

Mulai sejumlah kasus seperti Tragedi Tanjung Priok dan Tragedi Semanggi yang banyak memakan korban jiwa. Massa aksi memperlihatkan gambar seorang aktivis HAM yang terbunuh di pesawat dalam perjalanannya menuju Amsterdam, yakni Munir Said Thalib yang hingga kini kasusnya dibiarkan begitu saja.

Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) HTN, Ray Fauzan mengatakan bahwa hal ini pemerintah seakan-akan menjadi kaum penindas yang memanfaatkan kekuasaan dengan berlaku sewenang-wenang terhadap masyarakat sipil. Ia menyampaikan di periode Presiden Jokowi,  pemerintah harus mampu melihat dan mendengar supaya kasus-kasus pelanggaran tersebut dapat segera dituntaskan.

“Bicara kemanusiaan bahwasannya kaum mustad’afin ataupun orang yang tertindas, itu banyak didiskriminasi, banyak diselewengkan, banyak digunakan tidak semestinya daripada kaum mustakbirin. Kaum mustakbirin itu adalah kaum penindas, yang kekuasaan ataupun secara kekuatan itu digunakan secara sewenang-wenang,” jelas Ray, Kamis (14/9/2023).

Sama halnya dengan apa yang dikatakan Ray, koordinator aksi, James (bukan nama sebenarnya), bahwa alasan diadakannya September Hitam adalah menjadi pengingat bahwa kasus-kasus pelanggaran HAM yang belum kunjung usai ini menjadi salah satu bukti kurangnya pemerintah dalam menaruh kepeduliannya terhadap HAM dan tidak sejalan dengan konstitusi negara.

“Dilaksanakannya aksi hari ini adalah kita merawat ingat, kita hari ini sadar bahwasannya ketika negara dihadapkan kepada keadaan yang baik-baik saja tapi komitmennya dilupakan, itu adalah negara yang tidak peduli kepada Hak Asasi Manusia dan sangat jauh daripada tujuan konstitusi,” jelasnya.

Dengan diadakannya refleksi ini diharapkan dapat menyadarkan mahasiswa dan masyarakat bahwa pemerintah sampai saat ini belum mampu menuntaskan kasus pelanggaran HAM. Dan apabila memang hari ini negara tidak dapat berkomitmen, rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi wajib untuk bersama-sama menuntut tegaknya keadilan.

“Mungkin ini jadi satu wacana baru kalaupun negara hari ini tidak berkomitmen, kita sejatinya sebagai rakyat harus mengorganisir diri sebagai entitas yang sejati, pemilik kedaulatan sejati untuk sama-sama negara kembali memperlihatkan dirinya untuk peduli terhadap Hak Asasi Manusia itu sendiri,” ujar James.

Reporter: Silmi Hakiki/Suaka

Redaktur: Mohamad Akmal Albari/Suaka

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Ke Atas