Kampusiana

Kisah Perjuangan Suku Naga : Pergeseran Kebudayaan Akibat Gaya Hidup Modern

Teater Awal Bandung menggelar pementasan Studi Panggung XXXIV dengan judul “Kisah Perjuangan Suku Naga” di Aula Student Center, UIN SGD Bandung, Minggu (20/8/2022). (Foto : Auliya Umayna/Suaka).

SUAKAONLINE.COM – Teater Awal UIN Bandung menggelar studi panggung drama musikal angkatan 34 dengan mengangkat cerita dari naskah karya W.S Rendra bertajuk “Kisah Perjuangan Suku Naga”, di Aula Abjan Soelaiman UIN Bandung, pada Sabtu (20/8/2022). Pementasan ini diadakan selama dua hari, sabtu dan minggu, dan dihadiri kurang lebih 400 apresiator dari mahasiswa UIN Bandung dan masyarakat umum.

Pementasan ini berisikan bagaimana kehidupan masyarakat Indonesia menghadapi trend gaya hidup modern. Adanya perbedaan terhadap gaya hidup modern dan tradisional ditampilkan secara menarik. Masyarakat modern ditunjukkan dengan kehidupan kota yang serba mewah, berbeda dengan masyarakat tradisional yang ditunjukkan dengan pakaian adat serta cara hidup sederhana. Selain itu, cara berpikir yang berbeda antara masyarkat kota dan desa disuguhkan secara tepat.

Menurut Pimpinan Produksi Teater Awal, Febby Dwi Raffli, pagelaran drama kolosal ini merupakan studi panggung pertama yang dilakukan anggota baru teater awal UIN Bandung. “Iya betul agenda rutin, agenda rutin buat anak anak baru, namanya studi panggung. Jadi kaya pelajaran panggung (bagi) anggota baru teater awal Bandung,” ucapnya setelah pagelaran berlangsung, Sabtu (20/8/2022).

Ia juga menjelaskan target dari penonton drama musikal ini ialah Pelajar, Mahasiswa UIN Bandung, dan Mahasiswa Teater. Selain itu, ia mengatakan persiapan pementasan kali ini memakan waktu selama kurang lebih lima bulan. “kita mulai itu dari Maret pertengahan. Jadi kita produksi dulu, setelah itu ke bidang Art (seni) nya kaya pemilihan sutradara, naskahnya apa, penata siapa, dan ada casting dulu. Hampir lima bulan lah,” lanjutnya.

Sutradara drama tertrikal, Faiz menyampaikan naskah yang diambil kali ini memiliki makna yang ringan namun mendalam. “kalau dilihat dari naskahnya itu tentang maraknya perkembangan zaman, lalu melupakan kebudayaan dan menggeser akan nilai-nilai tradisi yang ada,” ucapnya Sabtu (20/8/2022).

Selain itu, ia mengungkapkan kendala yang dirasakan selama persiapan pementasan. Ia mengatakan membutuhkan tempat yang besar untuk latihan, terlebih pementasan ini melibatkan aktor dan crew yang banyak. “Sebagian besar kendala paling ya fasilitas, dilihat dari aktor dan crew banyak, kita butuh tempat latihan yang besar juga dan penyesuaian,” keluhnya.

Pemeran utama pementasan, Lisna menceritakan latihannya sebelum pementasan digelar. Dengan memerankan perawakan yang centil, Kucem nama panggungnya harus berlatih selama seminggu tiga kali dan tiap hari selama satu bulan menjelang pementasan. Selain itu, ia mengatakan kendalanya saat pementasan.

“Terus dalam kendala gaun ya, cukup ribet. Tapi kita harus bisa mengontrol pakaian kita dipanggung, kita juga harus selalu ngecek make up setiap mau masuk panggung. Dan juga panggung yang lebih lebar dari tempat latihan,” tuturnya usai pementasan, Sabtu (20/8/2022).

Salah satu penonton dari Universitas Padjajaran (UNPAD), Azka berkomentar bahwa pementasan ini cukup menarik perhatiannya. Ia mengatakan naskah yang dipilih sangat tepat, akting dari para aktornya luar biasa, dialog yang diperankan setiap karakter juga cukup mendalam. Selain itu ia juga menyampaikan musik serta koreografi yang disuguhkan pada drama musikal ini sangat memuaskan.

“Menarik banget ya, dari tata cara penampilan musik dan koreografi mereka menarik banget, udah lama banget ga nonton teater. Jadi pesan yang disampaikan itu kena banget. Yang paling menarik itu dari dialog-dialog pemainnya apalagi naskahnya ditulis WS. Rendra kan, dengan epik-nya dialognya dan koreografi cukup memuaskan bagi saya,” ungkapnya Sabtu (20/8/2022)

Reporter : Alisya Darmayanti dan Auliya Umayna/Suaka

Redaktur : Yopi Muharam/Suaka

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Ke Atas