Lintas Kampus

Masjid Lautze 2, Masjid Tionghoa Tertua di Bandung

Dok. Internet

Dok. Internet

SUAKAONLINE.COM, Bandung – Sekilas orang tidak akan menyangka sebuah bangunan ruko di jalan Tamblong adalah sebuah Masjid. Bangunannya memang masih berupa ruko dengan cat merah menyala. Jika diperhatikan lebih jeli, dekorasi Masjid tersebut menyerupai Klenteng. Ya itulah masjid Lautze 2, Masjid Tionghoa tertua di Bandung. Berdiri tegap di antara deretan perkantoran dan ruko-ruko di sekitar Jalan Tamblong, Bandung.

”Ya Masjid ini yang tertua di Bandung. Didirikan ini agar memberikan fasilitas bagi warga sekitar sebagai tempat beribadah umat muslim pada umumnya, dan sebagai tempat memberikan informasi akan Islam, bagi saudara baru (etnis Tionghoa-red) untuk mengetahui Islam, serta bagi mereka yang berminat untuk memeluk agama Islam,” terang Jesslyn Reyner, Humas Masjid  Lautze 2, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Saat memasuki bagian dalam Masjid, ukurannya tidak terlalu besar hanya 6 x 7 meter dengan daya tampung 50 jemaah. Telihat lampu-lampu berbentuk lampion merah segiempat. Cat dinding dan tembok juga didominasi warna kuning dan merah. Semuanya memiliki arsitektur khas negeri Tirai Bambu. Di sebelah kanan terpasang figura foto. Dalam foto tersebut berdiri tiga orang pria. Mereka adalah Haji Karim Oie, sang pendiri Lautze bersama Presiden pertama Republik Indonesia Ir Soekarno, dan tokoh Islam Indonesia, Buya Hamka.

Masjid Lautze pertama kali didirikan seorang muslim keturunan Tionghoa, Haji Ali Karim tahun 1991 melalui Yayasan Haji Karim Oei (YHKO). Sementara penamaan Masjid Lautze diambil dari nama jalan di Jakarta, kantor pusat YHKO, yakni Jalan Lautze 87-89 Pasar Baru, Jakarta Pusat. Di Bandung sendiri Masjid Lautze 2 berdiri sejak tahun 1997.

“Jadi pendiriannya awalnya di Jakarta. Kalau nomor 2 itu untuk membedakan dengan masjid Lautze di Jakarta, karena yang di Bandung dibuat setelah yang di Jakarta jadi dinamakan Masjid Lautze 2,” kata Jesslyn. Sejak berdiri tahun 1997, masjid ini mengalami beberapa renovasi hasil tangan arsitek asal ITB, Umar WiIdagdo. Masjid direnovasi dengan memperkuat arsitektur Tionghoa di beberapa titik pada 2004 dan 2007.

Banyak kegiatan yang dilakukan di Masjid Lautze 2 Bandung, salah satunya pendampingan mualaf. Menurut Jesslyn, banyak dari etnis Tionghoa yang ingin tahu lebih dalam tentang agama Islam, agak kebingungan mencari informasi tentang Islam. Kenyataan ini ditambah adanya perasaan canggung, ketika memasuki masjid untuk sekedar menanyakan atau mencari informasi mengenai Islam.

“Dengan didirikanya Masjid Lautze, yang notabene bangunannya berciri khaskan arsitektur Tionghoa, diharapkan keberadaan Lautze, bisa memfasilitasi mereka yang ingin mempelajari Islam lebih dalam, khususnya saudara dari sesama etnis Tionghoa,” ujar Jesslyn.

Sejak tahun 1997 hingga 2015, sudah ada 138 orang Tionghoa yang menjadi mualaf di Masjid Lautze tersebut. Selain itu, ada kursus berbagai macam bahasa, meliputi Bahasa Mandarin, Bahasa Arab, dan kursus Shufa (seni kaligrafi Tionghoa).

Pada bulan Ramadhan tahun ini, Masjid Lautze menambah beberapa kegiatan berupa ngabuburit setiap hari dari Azhar sampai Magrib, Ta’jil On The Road, Shalat Tarawih dan Belajar Qur’an Ramadhan. Termasuk di dalamnya peringatan Nuzulul Quran. Di akhir Ramadhan, Masjid Lautze juga melaksanakan pembagian zakat fitra, infaq dan sedekah bagi fakir miskin, serta shalat Idul Fitri.

Kini keberadaan Masjid Lautze tidak hanya dapat ditemui di Jakarta dan Bandung saja. Kota-kota lain seperti Cilacap, Cirebon, dan Yogyakarta, menambah deretan masjid Tionghoa di pulau Jawa. “Namun karena tempatnya yang sebagian belum menetap, kami dari pihak Lautze Bandung sendiri belum bisa memastikan alamat pasti keberadaan masjid Lautze yang tersebar di setiap daerah tersebut,” kata dia.

Reporter: Robby Darmawan

Redaktur: Isthiqonita

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas